Start

Minggu, 02 Juni 2019

Kehilangan itu menyakitkan


Gambar diambil dari Gemintang.com


#30HariMenulis_Hari_2

Flat. Ide menulis hari kedua tak kunjung datang. Aku masih merasa kesulitan dalam menuliskan suatu hal. Jika ada yang merelakan waktunya untuk menuntunku menulis dengan senang hati aku akan mengikutinya. Tapi, tidak mungkin bisa, karena semua peserta yang mengikuti event 30 hari menulis ini semuanya hanya bertemu lewat dunia maya dengan kesibukan masing-masing di dunianya. Aku tidak boleh menyita waktu orang lain begitu saja dengan seenak jidatku sendiri. Aku harus tetap berusaha keras untuk bisa lanjut menulis dihari kedua ini. Perasaan minder dan malu setelah melihat tulisan orang lain yang luar biasa sudah pasti ada. Tapi, hal itu harus dijadikan sebagai motivasi pribadi untuk tetap berusaha menulis semampu yang kita bisa.

Yah! Kehilangan. Aku akan coba menuliskan sesuatu tentang kehilangan. Mari kita selami bersama.

Setiap dari kita pasti punya pengalaman bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang kita sayangi dan kita kasihi. Kehilangan ayah, ibu, anak, menantu, suami, istri dan siapa pun itu yang selama ini hadir dalam hidup kita. Bagaimana tidak? Karena seperti yang sudah kita tahu sebelumnya setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan yang akan hadir ditengah-tengahnya. Hanya orang-orang beruntung sajalah yang mampu hidup bersama dalam jangka waktu yang sangat lama, hingga menua bersama dengan yang kita cintai dan kita kasihi sampai Tuhan tak lagi menghendaki.

Aku yakin, Semua orang tidak menginginkan berpisah dengan orang-orang tersayang yang telah setia mengisi kehidupan kita dalam keadaan suka maupun duka. Tapi, jika Tuhan sudah berkehendak demikian, bagaimana mungkin untuk kita menolaknya.

Rasa sedih yang mendalam tak dapat dijelaskan secara lisan, karena bukan hanya fisik yang ditinggalkan dalam sebuah perpisahan, melainkan perasaan cinta yang tertinggal dalam hati tak dapat digambarkan secara logika manusia pada umumnya. Meskipun ada banyak ungkapan sabar dan tabah yang tertorehkan. Semua ungkapan tersebut belum bisa membayar bagaimana rasa sakitnya kehilangan, terutama kehilangan kekasih yang telah lama menemani sepanjang masa hidupnya.

Akan tetapi, upaya terbaik harus tetap dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitar untuk lebih menguatkan secara psikis bagi orang-orang yang telah ditinggalkannya. Jika ada kalimat yang lebih menguatkan selain kata sabar dan tabah, mungkin semua orang yang turut merasa sedih dan kehilangan akan segera mengungkapkannya agar mampu meringankan sedikit beban pikiran bagi yang sedang berduka. Tapi apa daya, hanya doa terbaiklah yang mampu kita panjatkan untuk orang-orang yang telah lebih dulu meninggalkan kami agar kelak mendapatkan surgaNya dalam kenikmatan yang lebih hakiki disisi Tuhan yang maha Esa.

Seperti yang kita ketahui bersama, dipenghujung ramadhan tahun ini Indonesia sedang berduka atas kepergian Ibu Ani Yudhoyono, istri dari Mantan Presiden kita yang ke-6. Terlihat dari paras seorang Jenderal, politisi hebat dan juga mantan presiden RI-6 sangat terlihat dari raut wajahnya bahwa ia adalah orang pertama yang paling merasa kehilangan atas kepergian istri tercintanya.

Sosok Ibu Ani yang telah setia menemani perjalanan hidup Pak SBY selama 43 tahun lamanya, kini sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Berat rasanya bagi Pak SBY untuk menerima kenyataan yang sudah terjadi. Tapi, jika ini jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk Ibu Ani yang mengidap kanker darah, mau tidak mau harus direlakan demi kebaikan istri tercinta.

Kita semua menyaksikan bagaimana pengabdian seorang suami yang mengorbankan segala aktivitas pentingnya untuk menemani sang istri yang sedang melemah karena rasa sakit yang dideritanya, kanker darah/leukimia. Karena baginya tak ada yang lebih penting dari pada kesembuhan dan pengabdiannya pada sang istri. Tak sedetik pun Pak SBY meninggalkan Ibu Ani, ia selalu setia menemani dan selalu ada disampingnya untuk menguatkan sang istri yang sedang berjuang melawan rasa sakit yang mengidapnya.

Tak perlu panjang lebar untuk menuliskan banyak hal tentang sepasang kekasih yang telah berhasil menggugah dunia atas segala bentuk pengabdian yang telah ia teladankan. Kita semua dari kalangan apapun harus meneladani kesetiaan seorang pemimpin kita semua pada istrinya di atas segalanya. Karena separuh hidup sepasang kekasih yang telah lama menjalin pahit manisnya kehidupan ada pada pasangannya. Kurasa begitu. Jika salah satunya hilang, maka separuh jiwanya pun akan hilang. Sedih rasanya.

Kita semua merasa kagum yang tak terkira melihat masa-masa terakhir antar keduanya. Semua yang telah dilakukan patut kita teladani bersama. Keikhlasan dan kesabaran seorang jenderal tergambarkan dengan segenap jiwa dan raga dengan penuh rasa cinta yang ada.
Turut berduka cita yang sangat mendalam pak jenderal!
Terima kasih telah memberikan teladan baik pada dunia bahwa kesetiaan cinta pada satu pasangan itu harus kita perjuangkan bersama dalam bentuk kesalingan yang tak dapat diperhitungkan oleh apapun.

#NulisAjaDulu

Words : 716

Tidak ada komentar: