#30HariMenulis_Hari_10
Tema : Numbers
Sebenarnya saya sendiri tidak begitu mengagungkan angka-angka atau memfavoritkannya secara berlebihan. Tidak. Akan tetapi, secara tidak disadari setiap kali saya ingin membeli kartu perdana, saya selalu menginginkan angka 3 di dalamnya. Entah sejak kapan saya mulai seperti itu.
Awalnya saya lebih tertarik ke angka 8 karena merupakan angka bulan kelahiran saya. Meskipun pada nyatanya hoaks. Tapi itu tidak lama. Saya tetap selalu tertarik untuk memilih kartu perdana yang banyak angka 3-nya. Lihat saja, setiap nomer kartu perdana yang saya miliki angka 3 sudah menjadi ciri khas bagian nomer belakangku. Saya kira tidak perlu juga saya cantumkan nomer saya disini karena tidak begitu penting juga sih. Wkwk
Kalau ditanya apa makna penting dibalik angka 3 ini. Saya akan mencoba mencari alasan yang mungkin bisa diterima menjadi sebuah ingatan untuk diri saya sendiri. Setelah saya mencoba menelusuri segala memori kehidupan yang sempat dialami, ternyata ada sesuatu peristiwa penting dibalik angka 3 ini.
Pada tahun 2006, tepatnya tanggal 3 bulan 3 merupakan hari dimana kesedihan itu datang menimpa keluarga kami. Kesedihan mendalam yang harus saya terima dengan seikhlas mungkin. Kesedihan yang dimaksud adalah ayah saya pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Kala itu saya masih duduk dibangku sekolah dasar kelas 4. Usia yang masih sangat labil untuk menerima kenyataan yang sepahit itu.
Kehilangan seseorang yang kita sayangi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan dan menyayat hati. Tangis itu pecah tanpa terkendali. Saya menyesali semua kesalahan yang pernah saya lakukan semasa hidup sang ayah.
Saya yang selalu menyusahkan dan memberikan beban kepada ayah saya untuk selalu menuruti semua keinginan tanpa tahu kondisi. Saya terlalu egois. Yah anak seusia saya kala itu memang lagi suka cari perhatian dan suka bikin sensasi untuk orang tua meski terkadang menyebalkan orang dewasa yang ada disekitar. Gimana ya jelasinnya, pasti pembaca bingung. Sudahlah ini hanya sekilas berita saja yang tak perlu harus dipahami betul kayak rumus matematika atau fisika. Lewatkan saja.
Baik. Saya adalah seorang anak yang keras kepala, banyak kemauan dan semua itu saya lakukan secara sadar tanpa berpikir panjang bahwa ternyata merepotkan orang tua. Saya merasa berdosa sekali kala itu. Jika waktu bisa diulang kembali saya ingin tetap hidup bersama ayah saya dengan segala bentuk kepatuhan dan ketaatan yang bisa lebih membahagiakan tanpa meninggalkan beban pikiran. Saya menyadari hal itu setelah saya mulai beranjak dewasa. Jiwa kekanak-kanakan itu menempel sealamiah mungkin.
Tapi, semua itu sudah terlambat. Ayah sudah pulang ke pangkuan ilahi tanpa ada kesempatan untuk bisa kembali terkecuali berjumpa dalam mimpi.
Saya menyadari, takdir hidup dan batas usia ayah tidaklah panjang. Ayah meninggal diusianya yang bisa dikatakan masih muda, sekitar 43 tahun. Masih muda kan ya. Iyes.
Jika bicara takdir, manusia tak bisa mangkir. Ayah sakit struk dan juga darah tinggi. Tuhan tahu jalan terbaik untuk setiap makhluknya. Tuhan lebih memilih untuk mengambil jatah hidup ayah saya ketimbang membiarkan ayah saya hidup dalam keadaan struk. Itulah jalan terbaik yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Saya sebagai seorang anak harus ikhlas dan menerima apapun yang sudah terjadi. Semoga ayah lebih tenang disisiNya dan diampunkam segala salah dan dosa selama masa hidupnya.
Saya yakin, ayah sudah memaafkan atas segala tingkah dan perbuatan saya yang selalu ingin lebih diperhatikan dan dimanjakan. Saya kira itu wajar. Tapi tetap saja penyesalan itu ada karena saya belum mampu memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan ayah saya. Namanya juga masih kecil. Harap dimaklumi. Tapi, tetap ambil pelajaran dibalik semua ini.
Ayah, berbahagialah selalu disana. Kami disini baik-baik saja.
Alfatiha. ~~
#NulisAjaDulu
#Peserta76
#Words571
Tidak ada komentar:
Posting Komentar